Tujuan Hidup Sapiens

Manusia adalah satu-satunya binatang yang memfungsikan otaknya sehingga melahirkan berbagai macam ide, gagasan yang dinamis.  Manusia memiliki kesamaan dengan binatang lainnya, maka tak heran kalau Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa manusia itu sebangsa dengan binatang.

Dengan bacaan yang kurang dan sumber referensi yang minim, akan banyak orang yang menentang kalimat ini (manusia adalah binatang). Mereka tak mau membuka pikirannya untuk menguji kebenaran teori tersebut.

Pandangan yang lebih ekstrim lagi, itu datang dari Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia. Dia mengatakan bahwa kerabat-kerabat terdekat kita yang masih ada adalah simpanse. Enam juta tahun yang lalu, satu kera betina memiliki dua putri. Yang satu menjadi nenek moyang semua simpanse, yang satu lagi adalah nenek moyangnya manusia.

Dalam tulisan ini, bukan mengajak teman-teman untuk membenarkan hipotesis atau teori yang saya suguhkan. Tapi mengajak teman-teman untuk mau berpikir.

Secara definisi, manusia merupakan binatang yang berpikir. Dengan pikiran inilah, mereka mampu beradaptasi dengan alam. Kehidupannya itu sangat dinamis. Berbeda dengan binatang lain yang memiliki otak tapi tidak memiliki pemikiran. Dan kehidupan bitanang ini bersifat statis.

Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa perbedaan utama manusia dengan binatang lain adalah perbedaan kehidupan. Manusia adalah satu-satunya binatang yang sepenuhnya hidup. Binatang yang lain tak memiliki perasaan dan tak tahu suka serta duka. Binatang yang lain ini hanyalah mesin-mesin yang setengah hidup.

Dengan kemampuan pikirannya, manusia mampu mengungguli binatang lain. Bahkan mengeksploitasi binatang lain untuk memenuhi hasrat hidupnya agar menjadi binatang yang hidup seutuhnya. Keunggulan manusia di hadapan binatang lain, dari sisi pengetahuan ini pula yang menuntun mereka untuk mencari tahu tentang ‘tujuan hidup mereka’.

 Manusia memiliki tujuan hidup yang sama, walaupun agama, suku, budaya dan bahasanya berbeda. Mereka tetap menjadikan tujuan utama kehidupan meraka adalah Kebahagiaan. Inilah yang di ajarkan oleh para nabi bahkan para filsuf-filsuf yunani kuno. Perbedaan mereka hanya terletak pada cara untuk mendapatkan kebagiaannya.

Sekitar tahun 1000 SM di Yunani kuno, mereka sudah mengenal sebuah filsafat stoic. Filsafat yang mengajarkan bagaimana menggapai kebahagiaan. Begitupan para era yunani klasik, seorang Socrates pun mengatakan bahwa tujuan kehidupan adalah eudaimonia (kehabagiaan) kesempurnaan. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa cara untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan melakukan kebajikan.

Begitu pula lahirnya sebuah agama atau kepercayaan adalah untuk memberikan kebahagiaan yang sempurna. Tak mengheran bahwa ada sekitar 4200 kepercayaan agama yang bertebaran di muka Bumi ini. Semua itu adalah salah satu wadah yang mereka gunakan untuk menggapai kebahagiaan yang sempurna.

 

Komentar